Oleh : Rachmatullah Rusli

Dosen Agama Islam Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang

Dalam sebuah peperangan diceritakan Sayidina Ali berhadapan dengan seorang musuh untuk berduel dengan masing masing membawa pedang terhunus, tetapi ketika sayidina Ali mampu merubuhkan musuhnya dan memegang pedang yg terhunus di hadapan musuhnya yang sudah tidak berdaya , sayidina Ali justru meninggalkan musuhnya begitu saja. Ketika di tanya kenapa beliau meninggalkan musuhnya yang tak berdaya itu, beliau menjawab, “ Aku tidak ingin membunuh musuhku dalam keadaan marah, (sehingga hawa nafsu menguasai) dan bukan karena Allah.  

rachmatullah rusli ok

Mungkin kita juga masih teringat di benak kita pendapat K.H Ali Mustofa Yakub tentang kewajiban haji hanya 1 kali seumur hidup, dan lebih baik menyalurkannya dengan ibadah sosial (menyantuni yatim dll). bagi mereka yang masih memiliki kecukupan harta dan berniat melaksanakan ibadah haji untuk kedua kalinya. Alasan mendasar yang beliau sampaikan adalah masih banyak orang-orang yang membutuhkan uluran tangan di sekitarnya, yang lebih utama ketimbang haji untuk kedua kali.

Dari 2 penggalan cerita ini memang sejalan dengan misi utama Islam yaitu aklaqul karimah yang memancar dari sosok seorang yang melaksanakan ibadah. Karena ujung pangkal ibadah adalah sempurnanya akhlak manusia. ruh dari ibadah adalah pengorbanan egoisme untuk mencapai keridhoan Allah.

Bicara tentang ruh ibadah adalah akhlak, maka aklak itu tidak akan otomatis tumbuh  jika ibadahnya tidak didasari pada keikhlasan dalam mencapai keridhoan Allah. Malah bisa jadi ibadahnya didasari oleh hawa nafsunya. Loh kok bisa? Karena orang yang lepas keikhlasannya adalah orang yang sangat mudah di temani syetan. Surat Al Hijr 39-40 yang berbunyi:

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (39) إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (40

Artinya: Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi. Dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,(39) kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”.(40)

 Akibatnya syetan mungkin saja membimbingnya, jadilah dia beribadah berdasarkan hawa nafsu, yang ini jelas di larang dalam Islam. Az-Zukhruf ayat :37

Allah SWT berfirman:

وَاِ نَّهُمْ لَيَصُدُّوْنَهُمْ عَنِ السَّبِيْلِ وَيَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ

Dan sungguh, mereka (setan-setan itu) benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar, sedang mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.”(QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 37)

Contoh penyesatan syetan ada pada kisah di atas tadi. Pada posisi Sayyidina Ali, bukan halangan bagi Sayidina Ali untuk selangkah lagi menghabisi nyawa musuhnya. Karena ini dalam keadaan perang, di bunuh atau terbunuh. Ketika berfikir dengan fikiran yang bercampur dengan hawa nafsu, hal itu sangatlah wajar. Tapi tidak bagi sayyidina Ali yang menjaga hati dari petunjuk syetan. Dan memilih pada petunjuk Allah. Begitupun dengan orang yang memiliki harta banyak ingin melaksanakan ibadah haji yang kedua kali, tidak ada yang menghalanginya karena dia pergunakan hartanya sendiri, tetapi lebih memilih petunjuk Allah dengan mengorbankan egonya dan memilih sesuai petunjuk Allah.

Begitu juga dengan keadaan kita saat ini, di mana ancaman nyata dari penularan virus covid-19 ada di depan mata. Anjuran Pemerintah dan fatwa MUI untuk melaksanakan sholat di rumah dan melaksanakan sholat zuhur di hari jumat bukanlah tanpa alasan kuat. Bertambahnya korban yang tertular menjadi illat kenapa di anjurkan melaksanakan sholat fardu di rumah dan tidak melaksanakan sholat jumat. Terutama mereka yang berada di zona merah.

Dalam tujuan Islam menerapkan syariah diantaranya adalah agar bisa melindungi jiwa dari bahaya. Itulah kenapa Rasulullah memerintahkan kita untuk meghindarkan diri ketika terjadi wabah, Seperti diriwayatkan dalam hadits berikut ini:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

Artinya: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari)

Dalam kasus kewajiban sholat jumat dan sholat fardhu berjamaah di masjid untuk menghindarkan diri dari wabah dalam hukum Islam masuk dalam penjelasan konsep gradasi atau fleksibilitas. Karena dalam pelaksanaan ibadah ada yang di sebut kondisi ideal (keadaan normal) dan kondisi tidak ideal (tidak normal). Maka menyelamatkan jiwa dalam pelaksanaan sholat fardu berjamaah dan sholat jumat masuk kategori keadaan yang tidak ideal. Jika di paksakan merusak maslahat, karena mempercepat penyebaran.

Bagi mereka yang memaksakan diri untuk tetap sholat jumat dan sholat fardu berjamaah di masjid terutama bagi mereka yang berada di zona merah. Bisa jadi termasuk dalam kategori beribadah yang bercampur dengan hawa nafsu. Kenapa masuk dalam kategori hawa nafsu? Karena mengabaikan himbawan MUI dan juga pemerintah. Karena ibadah bukan saja masalah hubungan personal dengan Allah tetapi juga harus mempertimbangkan maslahat (kebaikan) yang lebih umum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *