Oleh : Irul Mahbub (Mudzakir)

Dosen Agama Fakultas Tehnik Kimia Universitas Pamulang

Kurang beberapa hari lagi menjelang bulan suci Ramadan, pemerintah tetap mengimbau masyarakat agar berada di rumah demi menekan angka penularan virus corona di Indonesia. Pasalnya, jumlah kasus positif covid-19 di tanah air belum menunjukkan penurunan sejak pertama kali terdeteksi awal Maret lalu.

irul

Di sisi lain kita merasa sedih, karena suasana Ramadan pasti berbeda karena pandemi corona ini, tidak bisa buka puasa bersama, tidak bisa shalat tarawih bersama, bahkan sholat idul fitri juga akan dilaksanakan di rumah. semoga saja covid-19 hilang sebelum menjelang bulan suci Ramadhan.

Dan di tengah imbauan social distancing, physical distancing, hingga penetapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan oleh pemerintah. Namun, sepertinya ada sebagian masyarakat yang tidak mempedulikan himbauan tersebut. Bisa kita lihat di jalanan dan pasar masih ramai pengunjung. Aktivitas ekonomi masih mengalir lancar, terutama sektor ekonomi non formal. Meski ada penurunan, tetapi tidak cukup membuat kota menampakkan wajah ketakutan. Roda transportasi umum juga masih sering sesak dan sempat terjadi masalah saat dikurangi intensitasnya.

Meski pemerintah meliburkan sekolah dan beberapa layanan masyarakat, semua itu tak cukup menghentikan denyut ekonomi warga. Hari-hari belakangan bahkan beberapa perusahaan di Jakarta turut “meliburkan” karyawannya. Social distancing atau pembatasan gerak yang dicanangkan oleh pemerintah berbenturan dengan kebutuhan ekonomi serta ruang bagi masyarakat kota, khususnya bagi masyarakat kelas ekonomi lemah.

Bagi ekonomi kelas menengah dan atas, mungkin tidak terlalu berdampak. Mereka yang bisa work from home dengan wifi. Anak-anak mereka masih bisa bermain di halaman rumah yang luas dan nyaman. Namun akan jauh berbeda dengan para pejuang harian yang mengais rizki di jalan, pemerintah harus memikirkan kondisi mereka.

Apakah mereka bisa bertahan bila dilarang keluar rumah? Di manakah anak-anak mereka bermain bila ruang-ruang publik juga ditutup? Bahkan hingga masjid pun ditutup? Sementara mereka tinggal di rumah-rumah petak yang saling berhimpitan dan hampir tanpa ruang terbuka yang nyaman.

Kejadian di Masjid Istiqlal dan Masjid Raya Bandung pada Jumat pekan lalu menunjukkan bahwa penutupan kegiatan ibadah ternyata tidak cukup efektif untuk menghalau masyarakat mendatangi masjid. Apalagi masjid-masjid di perkampungan penduduk, tentu lebih tidak efektif dan bisa menimbulkan masalah baru.

Orang-orang akan bertanya, kenapa tempat ibadah yang justru “dikalahkan” dibanding tempat berkumpul lainnya? Kenyataannya kita masih mendapati banyak tempat hiburan buka, acara hiburan di televisi masih tetap siaran seperti biasa; tetap mengumpulkan orang dan tidak tampak pembatasan apapun. Ketidaktegasan ini bisa menimbulkan kegaduhan bila tempat ibadah dibatasi secara sangat ketat dan tegas. Bukankah negara kita juga mendasarkan fondasinya pada Ketuhanan? Seharusnya pemerintah bisa melakukan pemetaan, mana yang zona merah dan zona hijau, sehingga tidak di genaralisir, sehingga menutup semua masjid.

Di mata masyarakat awam, masjid dan rumah ibadah lainnya adalah rumah Tuhan; di sanalah mereka bisa menemui Tuhan, mengadu, dan berkeluh kesah dengan dzikir kepada Allah Swt, seperti selama ini para agamawan mengajari mereka. Lalu mengapa sekarang para agamawan pun menghimbau untuk tidak mendatangi rumah Tuhan? dan ke manakah mereka kini harus mengadu? Sementara kegiatan lain masih bisa dikatakan berjalan cukup normal. Padahal  dengan zikir dan do’a bersama adalah solusinya. Yakin itu.

Maka di sinilah mestinya masjid dan tempat ibadah lain turut andil membantu mengatasi masalah dan membantu menenteramkan masyarakat, karena kepanikan hanya akan memperburuk keadaan. Jangan sampai masjid dan rumah ibadah lainnya turut menyumbang kepanikan atau menimbulkan masalah baru.

Untuk wilayah yang masih berzona hijau, ada baiknya di himbau agar masjid harus menjaga kebersihan. Maka masjid harus bekerja keras, misalnya dengan membatasi jumlah jamaah dalam waktu tertentu dan mempersingkat durasi ibadah pada saat tertentu, Shalat jumat misalnya, sebelum sholat dilaksanakan pengurus melakukan penyemprotan disinfektan, menyediakan fasilitas sterilisasi jamaah seperti hand sanitizer¸ tempat mencuci tangan, menggunakan masker, dan menganjurkan membawa sajadah dari rumah. Masjid harus berperan aktif dalam menyebarkan informasi dan menghimbau ke masyarakat sekitar untuk selalu menjaga kesehatan dan mengurangi aktivitas di luaran yang tidak perlu.

Bahkan bila perlu, masjid harus terlibat aktif dalam menjaga keselamatan sosial warganya, seperti memberikan bantuan bagi jamaah dan para ustadz yang biasa mengisi di masjid tersebut yang sangat membutuhkan. Masjid bisa menjadi garda terdepan tindakan gotong-royong dan memupuk rasa senasib sepenanggungan masyarakat dalam menghadapi badai wabah corona ini. Bukankah selama ini fungsi masjid bukan saja sebagai sarana ibadah tapi bisa menjadi sarana ibadah sosial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *