firdaus-darul ulum 2

Oleh : Firdaus, M.Pd.I

Dosen Agama Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi UNPAM

Sabtu, 01 Agustus 2020, Ketua Yayasan Sasmita Jaya, DR. Drs. H. Darsono meresmikan masjid Kampus Universitas Pamulang II (UNPAM II), dikenal dengan sebutan Kampus Viktor, berlokasi di  Jl. Raya Puspitek No.46, Buaran, Serpong, Tangerang Selatan, Banten.

Hadir dalam peresmian Wakil Walikota Tangerang Selatan, Drs. H. Benyamin Davnie, Ulama sepuh Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Tangerang Selatan, KH. Saidih, Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat, juga Civitas Akademika; Rektor UNPAM, Dr. H. Dayat Hidayat, para Wakil Rektor, para Dosen dan tamu undangan lainnya.

Peresmian ditandai dengan pembukaan tirai nama Masjid oleh Ketua Yayasan didampingi Rektor. Diawali dengan pembacaan Basmalah secara bersama-sama, tirai pun dibuka, masjid tersebut bernama Darul Ulum. Bertepatan 11 Dzulhijjah 1441 H resmi ada Darul Ulum di UNPAM.

Acara dilanjutkan dengan pengguntingan pita di depan pintu masjid. Tatkala rombongan secara bersama-sama selesai membaca doa masuk masjid, shalawat Badar pun menggema mengiringi Jama’ah masuk masjid. Ketua MUI diikuti beberapa jamaah lain ikut shalat Tahiyyatul Masjid (shalat Sunnah dua raka’at sebagai penghormatan kepada masjid ketika masuk masjid).

Acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al Quran oleh Ustadz Muhammad Zidni Ilman, Dosen Agama UNPAM. Ayat popular pun menggema, surah attaubah ayat 18 yang artinya “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta (tetap) mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) kecuali kepada Allah, maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Setelah itu sambutan-sambutan. Diawali sambutan oleh Ketua Lembaga Kajian Keagamaan UNPAM, H. Sofyan Hadi Musa.

 

Sketsa Khazanah keilmuan

Dalam sambutannya H. Sofyan Hadi menjelaskan maksud ketua Yayasan membangun Masjid yang menampung 1.500 jama’ah ini dengan design arsitek Kapal Nabi Nuh dan bernama Darul Ulum.

Harapan ketua Yayasan agar berbagai aktifitas akademik di UNPAM terangkut dalam perahu ini (Masjid). Tidak hanya digunakan sebagai sarana ibadah dan tidak hanya sebagai rumah kajian keilmuan agama saja, namun juga berbagai disiplin ilmu dari berbagai Fakultas dan jurusan yang ada di UNPAM.

Ini mengingatkan saya akan istilah integrasi keilmuan. Bila melihat ke belakang bahwa sejarah peradaban Islam awal mula tidak mendikotomikan disiplin ilmu umum dan agama. Terbukti dari berbagai ilmuan dan cendekiawan muslim di abad kegemilangan peradaban umat Islam yang memiliki kompetensi integratif.

Sebut saja misalnya Imam Fakhruddin Arrazi (Aliran Asy’ariyah bermazhab Syafi’i, w. 606 H/1210 M), seorang pakar Tafsir terkenal dengan karyanya Mafatihul Ghaib adalah seorang Dokter yang mempelajari Sastra Arab, Ilmu Falak/Astronomi, Kimia, termasuk Filsafat.

Demikian Ibnu Rusyd (Avveroes, w. 11 Desember 1198 M) cendekiawan ensiklopedik dan expertis, menguasai bidang Filsafat, Akidah, Teologi Islam, Kedokteran, Astronomi, Fisika, Fiqih, dan Linguistik.

Ke atas lagi ada Ibnu Sina (Avicena, w. 1037 M). ia seorang penulis produktif yang sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan kedokteran. Bagi banyak orang Ibnu Sina adalah “Bapak Kedokteran Modern”. Karyanya yang sangat terkenal adalah al-Qanun fī aṭ-Ṭibb yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad. Dan masih banyak lagi.

Bahkan, Imam Syafi’i (w. Mesir 204 H/819 M), ‘Alim di bidang fiqih yang Mazhabnya kebanyakan dianut oleh para penduduk Mesir selatan, Arab Saudi bagian barat, Suriah, Indonesia, Malaysia, Brunai Darussalam, Pantai Koromandel, Malabar dampai ke Hadramaut (Maroko) dan Bahrain. ini berhasil membangun epistemologi hukum yang disebut Ushul Fiqh dengan karyanya Ar Risalah.

Beliau adalah Ulama Fiqih yang mahir berbahasa Yunani dan menyerap ilmu-ilmu Filsafat Yunani sebagai bagian dari bangunan epistemolog fiqih tadi. Dan masih banyak lagi cendekiwan muslim dalam sejarah membuktikan integrase keilmuan untuk kepentingan peradaban manusia.

Tegasnya, dalam sejarah khazanah keilmuan Islam, dikotomi antara akal dan Wahyu adalah bangunan epistemologi yang sudah usai. Nampaknya semangat ini menjadi niat dibangunnya Masjid Darul Ulum berbentuk perahu Nabi Nuh sebagai symbol mengangkut semua disiplin ilmu di berbagai Fakultas di UNPAM. Kultur akademik dengan keilmuan integratif sebagaimana visi UNPAM yang berbasis nilai filsafat dan nilai wahyu yang tertuang dalam diksi Humanis dan Religius.

Sekilas sejarah awal Masjid pada masa Rasulullah SAW.

Melihat awal sejarah dan eksistensi masjid pada masa Rasulullah SAW, dapat dikatakan bahwa Masjid mempunyai peran penting dalam kehidupan umat Islam.

Ketika itu Masjid telah menjadi sentra utama seluruh aktivitas umat Islam di generasi awal. Bahkan pada masa itu, masjid menjadi fasilitas umat Islam untuk mencapai sebuah kemajuan peradaban.

Sejarah masjid sendiri bermula ketika  Rasulullah SAW hijrah ke Madinah (Yatsrib). Langkah pertama yang beliau lakukan adalah mengajak para pengikutnya untuk membangun masjid.

Konsep masjid pada masa itu, ternyata tidak hanya sebatas tempat salat saja, atau tempat berkumpulnya kelompok masyarakat (kabilah) tertentu, melainkan masjid menjadi sentra utama seluruh aktivitas keumatan, yaitu sentra pendidikan, politik, ekonomi, sosial dan budaya sebagai upaya membangun sebuah peradaban Islam.

Darul Ulum UNPAM Simbol Keilmuan Integratif

Dalam konteks Kampus sebagai pusat studi dan keilmuan, tentu Masjid menemukan definisi ini sebagai sentra pendidikan dengan berbagai disiplin ilmu. Termasuk bagi UNPAM yang memiliki berbagai Fakultas dan jurusan keilmuan.

Secara substansi, Masjid Kampus tercinta ini telah menemukan fungsi idealnya sebagaimana konsep masjid pada masa Rasulullah SAW. Hanya saja, dari berbagai Fakultas yang ada, kita masih menantikan Fakultas di bidang keilmuan Agama, hal mana studi fakultatif yang terkait dengan ibadah umat Islam dan interaksi sosial (mu’amalah) perspektif keilmuan agama yang dinaungi oleh Fakultas Agama Islam masih dinantikan oleh UNPAM. Semoga Pemerintah segera merestui ini.

Mengapa Masjid menjadi Sentra Kultur Akademik. Menariknya sebagaimana ayat yang dibacakan Qori pada persemian itu bahwa sesungguhnya orang-orang  yang memakmurkan masjid, baik dengan shalat (ritual vertikal, ketuhanan), dan menunaikan zakat (ritual horizontal, kemanusiaan) akan menjadi orang-orang yang mendapatkan petunjuk.

Menariknya, di ujung ayat disebutkan dengan kata “Fa’asaa Ulaa’ika Anyakuunu minal Muhtadin”, mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapatkan petunjuk, yang mencerminkan maksud semacam kepastian (Ibnu Abbas menyebutnya Wajib).

Kira-kira bagi civitas akademika atau mahasiswa yang sedang rumit menemukan tesis dari hipotesis, duduk dan diskusikan di Masjid, makmurkan dengan berbagai kegiatan positif bernilai ibadah, InsyaAllah pasti menemukan tesis dari hipotesis, solusi pemahaman dan terus semakin produktif.