Ciputat- Asosiasi dosen pendidikan agama Islam (ADPISI) DKI Jakarta menggelar musyawarah wilayah ( MUSWIL) ke-II dan seminar nasional dengan tema ‘Aktualisasi Islam Wasathiyah Dalam Mencegah Radikalisme Agama di Perguruan Tinggi Umum” yang dilaksanakan pada hari Senin, (15/01/2018) di Aula Fak. Pertanian Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Cirendeu.

Diselenggarakannya muswil ini untuk mengganti kepengurusan periode sebelumnya. “Pergantian pengurus ADPISI periode memimpin selama lima tahun. Sudah saatnya kepengurusan diganti dengan yang baru”, terang Dr. Amirsyah Tambunan, ketua ADPISI periode 2013-2018. “Dengan terpilihnya kepengurusan baru, akan memberikan warna dan suasana yang berbeda untuk bisa maju lagi”, lanjutnya.

2

Begitu juga yang disampaikan oleh DPW ADPISI pusat, Dr. Aam Abdul Salam. ADPISI harus mempunyai peran dalam memberikan kontribusi dalam membumikan Islam yang moderat. “Kepengurusan baru diharapkan bisa bekerjasama dan bersinambungan membuat kajian Islam yang moderat, rahmatan lil ‘alamiin, agar bisa menyentuh dilapangan secara konteks dan metodologi. Hubungan antara lembaga akademik ADPISI hingga pembinaan ke guru-guru agama disekolah-sekolah”, jelasnya dalam sambutan ditengah dosen dari berbagai Universitas dan Perguruan Tinggi Umum.

Begitu juga dengan Dr. Imam Syafi’i, selaku direktur pendidikan agama Islam Ditjen Pendis Kemenag RI, dalam sambutannya beliau mengatakan, agar tema besar ini perlu rumuskan. “Konsep Islam moderat, Islam yang rahmatan lil’alamin. Ini menjadi kontribusi dosen PAI untuk membuat rumusannya. Dosen diharapkan bisa memberikan pemahaman atau kompetensi keagamaan terhadap guru PAI di sekolah, tidak hanya pendagogik” tutur beliau dengan penuh semangat.

Tidak hanya muswil, seminar yang diusung pun menjadi perhatian bersama dalam mengaktualisasikan Islam wasathiyah dalam mencegah radikalisme agama di perguruan tinggi umum. “Dosen agama Islam mempunyai peranan penting dalam membumikan Islam Wasathiyah di universitas dan perguruam tinggi umum. Kampus mempunyai kemungkinan masuknya paham radikalisme kepada mahasiswa”, terang Dr. Nurwahidin, dosen agama Universitas Indonesia ini.

Lanjutnya, beliau menjelaskan ada ciri-ciri pemahaman dan praktek Islam wasathiyah (moderat). “Yaitu tawasut, mengambil jalan tengah tidak ifrath (berlebihan) dan juga tidak tafrith (mengurangi ajaran agama). Kemudian tawazun, yaitu berkeseimbangan, membedakan ihtiraf dan ikhtilaf. Kemudian ada i’tidal yaitu lurus dan tegas. Ada juga musawah yaitu egaliter. Ada juga syura yaitu musyawarah. Kemudian islah, yaitu reformasi. Kemudian aulawiyah yaitu mendahulukan yang diprioritas. Ada juga tathawwur wa ibtikar yaitu dinamis dan inovatif dan terakhir tahadhdhur yaitu berkeadaban”, terang beliau saat memaparkan tema seminar.

20180115_160731

Beliau melanjutkan, agar Islam wasathiyah bisa diamalkan seluruh umat Islam di Indonesia dan dunia sehingga menjadi syuhada ‘ala al-nas (saksi kebenaran Islam). “Mari kita wujudkan kehidupan keagamaan yang maju dan toleran, membentuk kehidupan yang damai dan saling menghargai, merealisasikan kehidupan kebangsaan yang ekslusif, bersatu dan berkeadaban, serta mewujudkan kehidupan yang demokratis dan nomokratis, mengukuhkan dan menguatkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang berkeadilan dan berkeadaban”, terang Nur yang mendapat penghargaan sebagai dosen produktif tahun ini. (deni)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *