Kamil Falahi, Dosen Agama Sastra Inggris Universitas Pamulang

Agama hadir selamanya harus menjadi solusi atas masalah umat. Dalam hal ini ajaran agama bertujuan untuk memberikan pencerahan terhadap problematika hidup yang dihadapi oleh ummat manusia, dan bukan tujuan beragama dalam Islam jika adanya malah menambah beban penganutnya. Berikut sumber ajaran agama berasal dari Al qur’an, hadist, ijma dan qiyaas , wabil khusus Al qur’an turun dengan asbabun nuzulnya yang melatar belakangi sehingga hadirnya firman Allah menjadi jawaban atas kebuntuan yang dialami sang Nabi SAW bersama para sahabatnya.

kamil

Salah satu problematika kehidupan adalah gesekan kesalah fahaman yang terjadi diantara masyarakat yang menimbulkan pertengkaran dan permusuhan, dengan ini Allah mengajarkan umat manusia untuk saling memaafkan jika terjadi kekeliruan dan salah cara pandang.
Terkait dengan maaf memaafkan dijelaskan dalam Surat Al A’rof ayat 199

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِيْنَ

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh”.

Yang dimaksud dengan jangan pedulikan adalah jangan berdebat dengan orang yang bodoh. Orang yang taqwa lembut hatinya untuk memaafkan orang lain. Maka derajat orang yang memaafkan adalah dekat dengan ketaqwaan.

Berkaitan dengan hal memaafkan juga terdapat dalam Al Qur’an Surat Al Baqoroh : 237 (ayat tentang perceraian), bahwa memaafkan itu lebih utama dan sifat pemaaf mendekatkan manusia kepada taqwa. Jika sudah tidak cocok lagi dan membahayakan kehidupan keduanya maka perceraian bisa menjadi jalan terakhir dari kebuntuan. Dan maskawin boleh diambil lagi separuhnya, ketika belum berhubungan badan. Tetapi lebih baik jika mahar tersebut disedekahkan kepada pihak perempuan. Orang yang taqwa lembut hatinya untuk memaafkan orang lain.

Hadits nabi Muhammad SAW dari abu Khuroiroh yang diriwayatkan oleh imam At-Tirmidzi dan imam Muslim dan Abu Daud: “Tiga perkara kalo kita mengeluarkan sesuatu maka Allah akan datang yang lebih banyak lagi.

Pertama, tidak akan habis harta yang disodakohkan, maka bersedekahlah;

Kedua, sesorang yang memberi maaf kepada yang mendhalimi karena mencari dan mengharap keridhoan Allah, maka tidak ada pahala baginya kecuali Allah akan meninggikan derajatnya di hari kiamat.

Ketiga, orang yang membiasakan meminta-minta maka Allah akan bukakan pintu kefakiran baginya.

Dari Siti Aisyah Rosulullah SAW bersabda: “Barang siapa mendo’akan kebaikan kepada orang yang mendholiminya, maka akan dibantu dan ditolong oleh Allah SWT di yaumil qiyamah, dan dipanggil oleh penyeru dengan panggilan; “Hai orang yang mengesakan Allah kalian akan dibebaskan dan silakan saling membebaskan (saling memaafkan)”.

Imam Al Ghozali mengajarkan bagaimana sikap saling menghormati dan menyayangi bahwa: “Anak muda mnghormati yang tua (tanamkan di dalam hati bahwa yang tua sudah lebih banyak amalnya). Sedangkan yang tua menghormati yang muda (tanamkan dalam hati bahwa orang muda masih sedikit dosanya).

Kesimpulan dari beberapa penjelasan di atas adalah sebagai berikut.
1. Orang yang mau memaafkan orang lain sekalipun itu yang mendholimi kita akan mendapat predikat tinggi di sisi Allah SWT.
2. Orang yang mampu membalas kejahatan/kecurangan orang lain tapi tidak mlakukannya maka dia akan lebih dekat dengan Allah SWT.
3. Allah tidak menghendaki kerusakan, maka berbuatlah baik dan saling menghormati, memaafkan satu sama lain
4. Tiada kebaikan bagi orang yang tawadhu dan yang membebaskan orang lain dari kesluitan kecuali Allah akan memuliakannya dan memudahkan kehidupannya
5. Orang yang bersodakoh/berinfaq di jalan Allah dan hanya mengharap ridho-Nya tidak akan habis hartanya, bahkan Allah akan datangkan yang lebih banyak lagi. Wallahu ‘alam

Kajian Ahad pagi, 6 Sept 2020
Masjid Nurul Hasanah
Kitab Ihya Ulumuddin
Nara Sumber: Ust Kamil Falahi, S.Th.I, SS, M.Pd

Notulen oleh. Dr. Cecep Suryana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *