Oleh : FIirdaus, S.H.I, M.Pd.I (Dosen Prodi Manajemen UNPAM)

Ramadhan berlalu Syawal pun tiba. Sebulan penuh kita menempa diri dengan puasa dan ibadah lainnya agar menjadi orang yang bertakwa.

firdaus-profile orng bertakwa

Bertakwa – diartikan sebagai menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi segala apa yang dilarangan-olehNya-,  dalam praktek sehari-hari terbangun ke dalam sistem sosial dan ritual.

Sebagai orang yang bertakwa tentu memahami akan hukum kausalitas. Misalnya Laku ritual (ibadah Mahdlah) seseorang baik dalam perkara wajib atau sunnah ganjarannya akan ia petik di akhirat kelak. Bilamana manfaat itu ia tuai dalam kehidupan nyata saat ini (dunia), maka demikian adalah bonus kehambaan dalam konteks kemanusiaan. Namun sebaliknya, ia tidak menyalahkan laku ritual yang tidak membawa dirinya sukses secara materi (dunia).

Orang bertakwa mengerti bahwa shalat, zakat, puasa, ibadah haji dan ritual lainnya terlalu rendah nilainya untuk sebuah investasi dunia. Justru orang bertakwa sangat memahami agar sukses secara materi hendaklah dengan bekerja keras, kerja cerdas, disiplin, saling menjaga hubungan persaudaraan dan prestasi kerja, meski Rezeki itu (kebahagiaan prestasi, kebahagiaan jabatan, kebahagiaan dalam materi dll) ia peroleh bukanlah sebab mutlak atas kuantitas kerja keras, tetapi juga sebab kualitas dan keberkahan dalam bekerja dan berupaya. Agama dalam hal ini menuntun manusia agar akhiratnya cemerlang, dunia pun gemilang.

Lalu bagaimana ciri orang yang bertakwa dalam kehidupan fana ini agar dunianya tetap gemilang akhiratpun cemerlang. Allah Swt menjelaskan di dalam Al-Qur’an tentang ciri orang yang bertakwa. Minimal pada tulisan singkat ini kita menelusuri ayat 3 s/d 5 Surah Al-Baqarah dan ayat 134 s/d 135 surah ali-’Imran, berupa minimal tujuh ciri orang yang bertakwa.

Pertama, Beriman kepada yang Ghaib, termasuk yakin dengan adanya hari akhir (Akhirat).

Bahwa Orang yang bertakwa meyakini sesuatu yang tidak kelihatan kasat mata, seperti surga dan neraka, timbangan amal; baik dan buruk, kebangkitan dari kubur, hisab dan sebagainya. Semua itu dapat kita sebut sebagai sikap Transenden futuristik. Dengan makna lain, manusia bertakwa memandang bahwa keberhasilan itu bukanlah sukses di dunia semata, namun berbuah kebahagiaan di Akhirat kelak.

Kedua, Mendirikan shalat lima waktu secara sempurna; memelihara syarat dan rukunnya, dilaksanakan dengan khusyu’, ikhlas semata karena Allah Swt.

Dialah khusyu’ (ketenangan), terutama inti dari shalat adalah Keikhlasan, menjadikan jiwa memiliki kekuatan protektif akan kehidupan diri dan keluarga dari perbuatan keji dan mungkar.

Minimal, shalat menjadi kunci sukses bagi peran keseharian, karena konsistensi dalam shalat (lima Waktu) serta kesan yang diraih dari shalat membawa dampak positif pada integritas diri, kedisiplinan, kesabaran, dan keikhlasan, serta mampu fokus dan tumbuh sikap optimis dalam meraih sukses penuh makna.

Ketiga, Kedermawanan. Gemar menafkahkan sebagian rezeki.

Ciri ketiga ini menggambarkan bahwa masyarakat bertakwa memiliki tradisi mau membelanjakan harta bendanya untuk kepentingan umum, menunaikan zakat misalnya, atau juga bersedekah, mendukung pendirian tempat-tempat ibadah, Lembaga pendidikan dan Pelatihan, membantu fakir miskin, anak-anak yatim dan lain sebagainya.

Kedermawanan ini secara umum dapat kita artikan sebagai berbagi untuk kepentingan agama & masyarakat. kedermawanan ini tidak memandang apakah seseorang itu dalam keadaan lapang atau sempit, saat kaya atau sedang miskin.

Ciri orang bertakwa ini, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, sedekah dll (Ikhlas dan Kedermawanan) redaksinya senantiasa Allah cantumkan secara berbarengan di dalam Al-Qur’an, bunyinya; Aqiimushhalah Waa AatuzzakahDirikanlah Shalat, Tunaikanlah Zakat (infaq, shadaqah, dll)

Keempat, Beriman Kepada Al-Qur’an dan Kitab-kitab samawi sebelumnya.

Manusia bertakwa pasti menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidup. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya senantiasa menjadi rujukan pengembangan diri dan peran sosialnya, baik di bidang ekonomi, sosial dan politik termasuk pula tradisi dan budaya masyarakat itu sendiri. Inovatif, menjaga tradisi lama yang baik, dan mengambil suatu tradisi baru yang lebih baik.

Kelima, Saling menahan nafsu amarah.

Sebulan penuh di bulan Ramadhan kita dilatih mengendalikan hawa nafsu, khususnya nafsu amarah. Agar mampu menahan Nafsu yang buruk ini kita belajar untuk bersabar. Sabar dalam menjalankan keta’atan dan bersabar dalam menghindari kemaksiatan. Untuk itu, manusia yang bertakwa ialah individu atau masyarakat yang memiliki karakter mau dan mampu bersabar dalam menjalani proses hidup dan kehidupannya.

Keenam, saling memaafkan di antara sesama.

Saat akan memulai Ramadhan, kita dianjurkan saling bermaafan, mulai dari orang-orang terdekat; orang tua, Suami atau Istri, saudara kandung, kaum kerabat, kawan karib, tetangga dan masyarakat, demikian agar ibadah selama Ramadhan semakin sempurna. Termasuk di bulan Syawal ini. tak sempurna rasanya tanpa meminta maaf dengan sesama.

Mengapa demikian? agar kema’afan, kelegaan, tenggang rasa, sikap terbuka, menjadi modal kita dalam bermasyarakat, khususnya kehidupan sesama yang bernaung di bawah tali silaturrahim.

Dan Ketujuh, Apabila mengerjakan perbuatan keji yang dampak negatifnya (juga) menimpa orang lain, lalu ingat Allah, maka ia pun segera memohon ampun kepada-Nya dan berkomitmen untuk tidak mengulanginya kembali.

Artinya manusia bertakwa mau belajar dari kesalahan masa lalu untuk kemudian optimis menjalani lembaran baru. Proses kehidupan selanjutnya

Semoga ke tujuh ciri tersebut di atas, yakni :

Beriman; sikap visioner ”dunia gemilang akhirat cemerlang”

  1. Ikhlas; sebagai kematangan spiritual,
  2. Dermawan; Saling berbagi dalam suka dan duka,
  3. Menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai Pedoman Hidup,
  4. Sabar dalam menjalani proses kehidupan dan meraih cita-cita,
  5. Tenggangrasa dan saling memaafkan,
  6. Serta mau belajar dari sejarah masa lalu (primordial historis), melekat pada diri kita.

Inilah sejatinya peran khalifah Allah di muka bumi, peran Kesalehan ritual (ibadah Mahdhah) dan peran kesalehan Sosial kemayarakatan (Ibadah Mu’amalah).

Demikian tujuh ciri orang yang bertakwa di antara ciri-ciri yang masih banyak disebutkan di dalam Al Qur’an dan diteladankan oleh Baginda Rasulullah SAW. Semoga bermanfaat.

Selamat Idul Fitri 1442 H.

Kembali suci adalah keinginan sejati,

sebagaimana pula nanti kembali keharibaan ilahi.

Waffaqanallahu Waiyyakum Ajmain. Allahumma Inna Nas’aluka Ridlaka Wal Jannah, Wana’udzubika min Sakhathika Wannar. Walhamdulillahi Rabbil ’Alamin.